ARTICLES IN TEMPO MAGAZINE

Simon Winchester dan Sejarah Populer

Tempo Magazine, 2003

Saya ingin memulai catatan mengenai Simon Winchester ini dengan mengutip John Banville:

“Inilah novel paling mengagumkan yang tidak ditulis oleh Patrick McGrath.” (“This is the most fascinating novel Patrick McGrath did not write.”

Novel yang dimaksud adalah Professor and a Madman (yang di Inggris beredar dengan judul Surgeon of Crowthorne). Inilah karya Winchester yang mengawali transformasinya dari seorang travel writer yang produktif menjadi salah satu penulis terpopuler di dunia dalam enam tahun terakhir. Novel yang terbit tahun 1998 tersebut bercerita mengenai dua leksikografer yang serius, terpelajar dan memiliki banyak kesamaan - kecuali bahwa yang satu adalah seorang tokoh masyarakat yang dihormati; dan yang lainnya seorang yang tak waras, seorang yang pernah membunuh. Nasib mempersatukan mereka dalam sebuah proyek yang mengukuhkan kedigdayaan kerajaan Inggris di paruh kedua abad ke 19: sebuah institusi bernama Kamus Inggris Oxford (Oxford English Dictionary, OED). Kamus 12 jilid ini, yang penggarapannya memakan waktu 70 tahun dan melibatkan lebih dari setengah juta kata, ribuan kutipan dan ratusan kontributor, menjadi kamus paling berpengaruh di dunia. 

Formula yang membuat novel ini laku di pasar dan di antara para kritikus arus tengah – sejarah yang mempunyai banyak suara, di mana sains bersenyawa dengan komedi, sejarah dengan cerita misteri, fiksi dengan biografi, bahasa non-fiksi dengan (sedikit) sensibilitas sastra – telah menjadikan pengarangnya seorang bintang. Ia dianggap telah menghidupkan sastra “hybrid”, julukan umum bagi persandingan fiksi dengan fakta, yang ilmiah dan yang komersial, sebagai salah satu cara untuk mengakali penulisan sejarah yang cenderung kering dan menjemukan. Empatinya bagi tokoh-tokoh pembaharu yang cenderung “terlupakan” oleh sejarah, yang, meminjam kata-kata Chairil Anwar dalam sajaknya Isa, membawa “terang di mata masa”, telah membetik gairah publik (terutama publik Inggris) tidak hanya untuk menyimak kembali peran Kerajaan Inggris dalam perkembangan peradaban dunia, tapi juga untuk melongok, dengan santai, ke masa lampau.

Pujian pun datang berhamburan. Buku laris manis. Nama pengarangnya melambung ke daftar penulis terlaris The New York Times. Ketika anggaran promosi mulai seret, sang penerbit, Harper Collins, mulai “menjual” sang penulis. Roadshow digelar. Wawancara bertumpuk. Fotonya muncul di situs-situs internet. Sejarah, agaknya, telah menjadi “populer.” Dan sang penulis tak lagi bertanya kepada rekan-rekannya yang lebih terkenal, seperti ketika ia bertanya kepada travel writer Jan Morris (ketika ia masih James Morris), “Bolehkah aku menjadi kamu?”

Begitu rupa hingga Krakatoa, karya Winchester yang terbaru, menjadi karya non-fiksi dengan jumlah resensi terbanyak tahun ini. Semua asumsinya, termasuk bahwa letusan gunung Krakatau pada tahun 1883 merupakan awal pertumbuhan kaum Islam militan di Indonesia, ditelan bulat-bulat bagaikan sebuah epifani; bayang-bayang 911 dan bin Ladenisme turut meneguhkannya. Dengan demikian, sebuah metamorfosis telah terjadi, dan dunia mendapatkan Simon Winchester baru: geolog, sejarawan, jurnalis, penulis kisah perjalanan, pendukung sekaligus pengejek the British Empire, dan “ahli Islam”. Bagaimanapun juga, seperti judul esai Rick Moody dalam buku Readers’ Guide to 20th century Contemporary Writers versi Salon.com, ini zaman “postmodernisme tanpa kepedihan” (“postmodernism without pain.”

Mengapa kutipan di atas penting? Karena dua nama yang telah disebut, John Banville dan Patrick McGrath, mengingatkan kita setidaknya pada tiga hal: bahwa kutipan di atas adalah bagian yang “lenyap” (sengaja atau tidak) dari kutipan yang muncul di sampul belakang buku Winchester; bahwa sastra “hybrid” tidak mulai dengan seorang Simon Winchester; dan bahwa eksperimen - dari Aeneid sampai The Divine Comedy, dari Rabelais sampai Sterne, dari Joyce sampai Beckett - adalah sesuatu yang selamanya implisit dalam narasi.

Pada novel-novel Banville, penulis Irlandia kelahiran 1945 itu, kita akan menemukan kemajemukan yang sama: sains, politik, seni, humor “tiang gantungan” ala Beckett, orientasi mitologis ala Yeats dan misteri ala Wilkie Collins – pencampuran segala ragam unsur dalam satu paket. Apapun subyeknya, komunisme, psike seseorang yang dihukum gantung, atau hidup seorang Copernicus, Banville, sekurang-kurangnya, adalah tiga hal sekaligus: seorang Irlandia, seorang stylist yang mahatrampil, dan seorang penafsir sejarah yang cermat. Ini nampak terutama pada dua novelnya, Kepler dan Doctor Copernicus, masing-masing sebuah perjalanan ke masa lalu yang dipertajam oleh prosa yang musikal dan rekonstruksi yang jernih tajam atas perdebatan ilmu pengetahuan pada zaman Pencerahan. Dalam novelnya yang terakhir, The Untouchable, sebuah karya fiksi berdasarkan kehidupan sejarawan seni rupa dan mata-mata Inggris terkenal Sir Anthony Blunt, Banville antara lain mengisahkan dengan lincah skandal yang dikenal dengan sebutan Espionase Orang Keempat (The Fourth Man Espionage). Menarik, apa yang kita bisa kutip dari Winchester seandainya ia balik mengomentari karya-karya Banville.

Dalam kadar yang berbeda, novel-novel Patrick McGrath juga merayakan yang lampau, yang mendua dan bercabang, yang tetap relevan: kekerasan, ketidak warasan, keterpesonaan terhadap hal-hal kuno, komedi yang menakutkan. Kebetulan yang lain: McGrath lahir dan dibesarkan di dekat Rumah Sakit Broadmoor, kediaman W.C. Minor, salah satu protagonis dalam Professor and a Madman, di mana ayahnya adalah seorang pengawas medis. Namun, di balik kekayaan detail Gothic-nya – rumah-rumah besar setengah ambruk, rahasia-rahasia yang terkubur, kematian-kematian misterius – niatnya sepenuhnya modern. Dalam hal ini ia memiliki kesamaan dengan Winchester, sesama orang Inggris yang terangsang oleh obsesi-obsesi kerajaan Inggris periode Victoria: mereka cenderung menjunjung tokoh-tokoh progresif, tertindas, dan yang sekaligus tak dapat dipercaya. (W.C. Minor dalam The Professor and the Madman, William Smith dalam The Map that Changed the World, Spider dalam Spider).

Perbedaannya: apabila Winchester lebih menyukai sisi pembaharu, sisi kepeloporan sejarah, McGrath cenderung menggeser perhatian ke luar panggung. Di mana Winchester ingin menyingkap, menggelembungkan dan merengkuh pengakuan bagi tokoh-tokohnya, McGrath ingin menggali, menyusup, masuk ke dalam. Bagi Winchester, sejarah peradaban harus berpuncak pada mereka yang diakui sebagai jenius; bagi McGrath, dan juga Banville, sejarah ada di detak jantung seorang Stella Raphael ketika ia menghilang di balik rerimbunan pohon bersama kekasihnya, di seorang Freddie Montgomery, yang berpikir mengenai selnya di penjara, apa-apa yang dilihat dan diciumnya di sana, sembari menanti ajal di tiang gantungan.

Bagaimanapun, modernisme Winchester menyiratkan sesuatu yang lain dari kehendak bermain-main dengan medium dan bentuk. Ia bukan sastrawan yang menafsirkan sejarah; ia adalah seorang pemburu riwayat hidup profesional. Oleh karena itulah ia tidak begitu tertarik pada rekonstruksi sejarah yang imajinatif, bahkan fiksional, sebagai medium bagi “the authorial voice” (yang nampak jelas pada Banville, terutama pada novel sejarahnya yang cemerlang, Dr. Copernicus). Yang ditawarkannya adalah keragaman informasi. 

Dengan demikian, bentuk pun mengikuti motif, sesuatu yang tidak perlu tampil ketat, monokromatik, atau sebagai sebuah oksimoron apabila pengarangnya tak menghendakinya. Tak heran kalau kita pun takjub bahwa Kamus Inggris Oxford (OED), sebuah institusi zaman Victoria yang begitu tegap kekar, yang prinsip-prinsipnya seakan menjelaskan dirinya sendiri (bahwa OED, berbeda dengan kamus-kamus lainnya, adalah kamus satu-satunya di dunia yang mengumpulkan kutipan dari sumber-sumber penggunaan bahasa Inggris lainnya sebagai pemandu konteks; dan bahwa oleh karena itulah ia harus direvisi terus-terusan, yang memakan biaya besar) ternyata “menyimpan” begitu banyak warna dan cerita. Atau bahwa riwayat hidup seorang leksikografer, yang menurut wakilnya yang paling terkenal Samuel Johnson, adalah “penulis kamus; seorang yang membosankan namun tak berbahaya; yang menyibukkan dirinya dengan melacak sumber, dan menguraikan signifikansi kata-kata.” (hal. 95), bisa diangkat sebagai subyek sebuah buku dengan niat dan tujuan yang sepenuhnya komersil.

Di titik ini, figur William Chester Minor menjadi penting, karena tanpanya karya ini mungkin tak akan pernah tertuliskan. Kontributor paling berharga bagi proyek OED ini jauh dari “membosankan” atau “tak berbahaya”. Orang Amerika dari keluarga kaya ini adalah seorang ahli bedah Angkatan Darat yang pernah ikut Perang Saudara. Ia juga seorang pembunuh yang mengirim sekurang-kurangnya 10.000 kata kepada ketua editor OED James Murray dari sebuah sel penuh buku di Broadmoor, di Rumah Sakit Khusus bagi Penjahat-Penjahat Tidak Waras. Ia adalah seorang paranoid yang melihat makhluk-makhluk aneh menyelinap ke dalam selnya di tengah malam, dan melakukan hal-hal yang ganjil padanya. Suatu hari, ia mengikis penisnya sendiri dengan sebilah pisau lipat. Bandingkan ia dengan sosok Murray: editor pertama OED, seorang filolog dan leksikografer yang dihormati, seseorang berlatar belakang keluarga sederhana dengan ambisi yang besar. 

Esensi hubungan mereka telah terangkum baik dalam prolog yang singkat tapi mengena: dimulai dengan panggilan publik untuk mengirim kontribusi kepada redaksi OED, sampai momen kebenaran itu: percakapan yang berlangsung antara James Murray dan pengawas Rumah Sakit Khusus Broadmoor, di sebuah desa kecil bernama Crowthorne, pada tahun 1896. Latar belakang keduanya dikisahkan dengan tempo dan enerji naratif yang mengasyikkan, melalui aneka anekdot dan fakta ‘kecil’ yang menyenangkan (salah satu sahabat dan kolega Murray, seorang ahli fonetik berwatak keras, adalah model yang digunakan Bernard Shaw bagi tokoh Henry Higgins dalam Pygmalion). Selebihnya, prosa yang jernih, lugas, hampir tanpa cacat: bahasa non-fiksi dengan wawasan fiksi.

Bagaimanapun juga, menyeimbangkan yang populer dengan yang akademis bukan saja tak mudah, tapi juga memerlukan sebuah pilihan yang tegas; dalam hal ini pengarangnya telah membuat sebuah keputusan politis. Ia telah memilih pembaca awam, dan, seperti dalam seni konseptual (conceptual art), demikianlah Simon Winchester menjajakan karya sekaligus dirinya sendiri - sebagai barang yang dimaknai dan didefinisikan terus-menerus oleh penulisnya. Simon Winchester telah menjadi sebuah merk, sebuah identitas, sebuah brand name - yang berkibar di atas karakter-karakter yang diselaminya.


Biografi versus fiksi 
Penulis yang memulai karir jurnalistiknya pada tahun 1972 sebagai koresponden Guardian di Amerika ini memang produktif. Dalam 20 tahunnya bekerja untuk koran Inggris yang kekiri-kirian tersebut, di mana ia banyak memenangkan penghargaan, ia telah menulis untuk The Atlantic Monthly, The Daily Telegraph, The Spectator, Harper’s dan Smithsonian. Ia pernah tinggal di India, Hong Kong, dan Uganda. Sebagai penulis kisah perjalanan, orang yang sekarang menjabat editor Asia Pasifik majalah Conde Nast Traveler ini menyukai proyek-proyek besar: Korea, Sungai Yangtze, Hong Kong, Kosovo – semua yang, ia akui sendiri, “tidak menghasilkan uang.” 

Dan tidak selalu mengundang puji. Karyanya berjudul A Fracture Zone: A Return to the Balkans, misalnya, yang dalam kata-kata Aleksandra Prietsfield, tak lebih dari sebuah “buku bandwagon”, dianggap gagal total baik sebagai sebuah reportase perjalanan maupun sebagai sebuah analisis politik yang netral. Ia dianggap terlalu partisan, terlalu berpihak. “Tiba-tiba, saya berganti haluan, dari kisah perjalanan ke sejarah.” kata Winchester dalam sebuah wawancara, “Dan, anehnya, The Professor and the Madman sukses besar.”

Apa gerangan yang menyebabkan “sukses besar” tersebut – di mana biografi tidak hanya melancarkan kritik terhadap historiografi namun juga sekaligus mencari dan mengukuhkan pahlawan? Kita tahu, biografi dan fiksi adalah dua hal yang berbeda: untuk meminjam pikiran Peter Ackroyd, “biografi adalah seni menyembunyikan sedang fiksi seni mengungkapkan sesuatu.” Masih menurut Ackroyd, dalam novel orang malah dipaksa menceritakan kebenaran, sedang dalam menulis biografi orang bebas menciptakannya. Juga tersedia begitu banyak cara dan perlakuan yang memudahkan pengarang biografi untuk menyembunyikan yang kurang, baik pengetahuan maupun pemahaman. 

Saya rasa ada dua jawaban. Pertama, distingsi antara fiksi dan biografi inilah yang mendorong Winchester, baik sengaja atau tidak, untuk tidak (secara sadar) menggabungkan kedua-duanya. Secara instinktif ia tahu bahwa ia seorang pengamat kehidupan dan pembaca sejarah yang peka; dan, pada saat yang sama, ia pun sadar bahwa ia seorang tukang cerita yang trampil. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa pengalamannya menulis The Professor and the Madman “… menyadarkan saya bahwa saya seorang tukang cerita yang baik. Yang terpenting, saya tahu bagaimana membuat sebuah cerita menarik. Tapi saya juga tahu kapan harus berhenti, sebelum cerita menjadi membosankan.” Maka ia tak merasa perlu menulis sebuah novel sejarah (the historical novel). 

Tapi bukannya lebih mudah. Menulis karya non-fiksi untuk kalangan awam, dan mencoba mempertahankan perhatian mereka terus-menerus, melibatkan banyak kompromi. Winchester sering kali tergelincir ke dalam suaranya sendiri, yang di beberapa bagian terkesan anakronistik atau terlalu personal. Salah satu kecenderungannya adalah menyandingkan, secara elementer, lanskap kaya dan miskin. Deskripsi fisik yang jelas lugas – ini merupakan salah satu kekuatan Winchester - tidak disertai ironi seorang Orwell, misalnya; simak bagian mengenai Lambeth Marsh, daerah di mana Minor mencabut nyawa seorang pekerja pabrik bir yang disangkanya seorang pembunuh bayaran, sebuah daerah yang terkesan tidak saja tidak dicintai, tapi tak akan pernah bisa dicintai. Di New Haven, tempat Minor dimakamkan, kita dihadapkan pada sebuah kuburan yang dipagar tegar dari “bagian New Haven yang marah”, yang selanjutnya dikontraskan dengan “keanggunan Yale.” Tujuh halaman kemudian, penulis merasa perlu mengingatkan bahwa makam Minor terhimpit di antara “sampah dan kampung kumuh.”

Kita lihat hal yang sama di A Fracture Zone: di mana teknik pengontrasan yang sangat hitam-putih terpaksa menyulut rasisme yang lebih dalam: sebuah kantong pemukiman Serbia di Bosnia yang begitu jahat dan buruk rupa, seorang ibu muda di sebuah padang rumput penuh dengan pengungsi Albania, yang “… bisa menjadi model keibuan, kebajikan dan seluruh keindahan manusia.”

Polaritas ini muncul lagi di dalam karya Winchester yang lain, The Map that Changed the World. Lagi-lagi, negativitas demi negativitas yang mengatasnamakan kemenangan Si Miskin dan Berbakat atas Si Kaya dan Sombong bukan saja menyeret cerita ke dalam mediokritas, tapi juga membawa efek sebaliknya. 200 tahun setelah William Smith mendapatkan pengakuannya, dunia kita toh tidak jadi lebih adil. 

Bagaimanapun, tahan diri itu tetap ada, walaupun dalam bentuk lain: kekaguman Winchester pada kedua tokohnya tidak menghasilkan empati yang berlebihan. Berbeda dengan McGrath, yang selalu menyelam jauh ke dalam psike tokoh-tokohnya, Winchester tidak membuang waktu untuk menjelas-jelaskan. Kondisi mental Minor, misalnya, disiratkan hanya sebagai sesuatu yang ada hubungannya dengan pengalamannya semasa perang. Ironi kehidupan dalam selnya di Broadmoor, yang jauh lebih manusiawi dari hari-harinya di Angkatan Darat, tak diberi (dan tak butuh) perincian. Dalam karya ini, Minor umumnya tampil sebagai seorang yang terpelajar, terhormat – hanya saja kurang beruntung.

Jarak emosional yang sama juga terlihat dalam karya “hybrid”nya yang kedua, The Map that Changed the World. Ini menarik. Pertama, karena novel ini bercerita mengenai hidup William Smith, orang pertama di dunia yang membikin peta geologi (dalam kasus ini, tentu saja peta Inggris). Kedua, karena pengarangnya adalah seorang geolog yang peduli, yang belajar geologi "24 jam sehari selama tiga tahun” dengan “niat penuh untuk mencari nafkah dari bidang tersebut", dan yang selepas kuliah pergi ke Uganda Barat dan bekerja di sana sebagai prospektor tembaga. Ia juga seorang penggila peta, yang menganggap kartografi sebagai salah satu instrumen sejarah terutama. Namun, lagi-lagi, dalam pertarikan antara kedisiplinan biografi dan pesona fiksi, gairah membangun pahlawan tidak harus berarti pengkultusan tokoh.

Tokoh sejarah sebagai entry-point
The Map that Changed the World mengukuhkan asumsi ini; pada akhirnya ia lebih mengenai evolusi ilmu geologi ketimbang mengenai hidup William Smith. Tapi, berbeda dengan The Professor and the Madman, yang topik utamanya - pelembagaan bahasa Inggris - adalah sebuah topik yang dengan sendirinya mempesona, penjabaran seluk-beluk ilmu geologi di penghujung abad ke 19 bukannya menambah, tapi malah mengganggu pengembangan karakter Smith. Penggunaan pertanda dan ikhtisar cenderung memajalkan suspense. Digresi ke dalam segala rupa anekdot jenaka seputar geologi - ciri yang digali habis-habisan dalam karya Winchester yang terakhir, Krakatoa – malah terkesan menutupi kekurangan pengarangnya: bahan, pemahaman, motif, atau tiga-tiganya.

Tidak jelas juga apakah hidup seorang William Smith, yang lahir tahun 1769 ini, adalah sebuah pusat sekaligus perekat cerita yang kuat. Winchester pertama kali mendengar nama Smith ketika masih kuliah di Oxford. “Saya mulai tertarik pada sosok ini karena mentor saya Harold Reading sangat mengaguminya.” katanya. 

Masa kecil Smith sendiri tak bahagia: ia miskin, yatim piatu, bukan orang sekolahan. Ia menyiasati hidup seperti ribuan orang lainnya: melalui keyakinan dan kerja keras. Namun ia cerdas, tanggap, dengan daya observasi di atas rata-rata. Dalam hari-harinya sebagai seorang surveyor, ia melihat, menyerap, meneliti, membuat hipotesa, bereksperimen, mencari konfirmasi atas teori. Ia mencatat, menggambar, memetakan semua singkapan yang ia temukan, dan menghubungkan semua titiknya. Hasilnya, sebuah peta, muncul tahun 1815: untuk pertama kali, manusia melihat dunia yang terhampar di bawah permukaan bumi - dunia yang berwarna, yang rinci, yang penuh keajaiban. Seperti umumnya sebuah penemuan baru, peta tersebut disanjung dan dihujat sekaligus: yang pertama karena nilainya bagi kehidupan niaga, yang kedua bagi serangan implisitnya terhadap salah satu mitos (baca: kemalasan) Gereja: penafsiran literal atas fenomena penciptaan di dalam Alkitab. Di sini, kita mendapatkan satu lagi pertanda: teori evolusi Darwin sebagai tema besar Simon Winchester. Krakatoa mengukuhkannya (lihatreview). 

Sayang, keberuntungan Smith hanya seumur jagung: empat tahun kemudian, hutang menjebloskannya ke penjara, dan penemuannya menjadi ladang subur para plagiat. Sumbangannya bagi dunia ilmu pengetahuan baru diakui lama setelah ia keluar dari penjara. Pendeknya, sebuah kisah yang klasik: kenaikan, kejatuhan, kebangkitan, sambutan. Penemuan, keputusasaan, penebusan. Tentu saja, ada selingan-selingan segar, dan keingintahuan-keingintahuan yang tak terjawab: sang istri yang gila seks, masalah hutang, detail-detail sejarah makro tak tergali. Tapi Winchester si jurnalis menahan diri: dari sok tahu maupun fiksi. 

Pada akhirnya, memang, tokoh sejarah hanya menjadientry point, titik masuk, ke dalam topik-topik khusus yang dekat dengan pengarangnya. Pada saat yang sama kebanyakan orang Indonesia tak akan puas dengan Krakatoa (lihat review), hampir semua manusia yang menghargai bahasa Inggris akan merasakan kenikmatan luar biasa membaca The Professor and the Madman. Ini karena Krakatoa adalah sekadar tokoh, atau entry-point, bagi pengarangnya, dengan geologi dan teknologi komunikasi sebagai topik utamanya. Sementara, bagi kita, Krakatoa adalah kita. 

Saya teringat sebuah pasase dalam The Professor and the Madman, yang muncul di pertengahan cerita. 400 tahun yang lalu, kata sang pengarang, seorang William Shakespeare tidak merasakan kemewahan yang menjadi bagian hidup kita sehari-hari: mengecek arti, pengejaan, maupun sinonim sebuah kata dalam sebuah kamus (“to look something up”). Lepas dari kompetensi thesaurusThomas Cooper, dan Arte of Rhetorique karya Thomas Wilson –yang diyakini beberapa sejarawan sebagai “referensi linguistik” yang digunakan oleh Shakespeare, kita tak akan pernah tahu apakah kata consanguineousatau istilah now is the woodcock near the gin benar-benar digunakan orang atau hanya merupakan produk imajinasi (ataupun frustrasi) seorang jenius. 

Baru-baru ini, seorang bijaksana, yang sehari-harinya bergulat dengan kata, mengatakan: “Saya rasa apabila Shakespeare hidup pada zaman ini, ia tak akan mengerti apa yang dibicarakan orang.” Tentu. Bayangkan saja: Download, log on, buzz off. Sebagaimana kita tak langsung mengerti apa yang dimaksudkan oleh frasa thy doublet of changeable taffeta. Kecuali, mungkin, kalau kita curi waktu sedikit untuk membaca-baca OED.

2003