Essays - Indonesian

Kartini dan Eropa: Sebuah Mimikri

This article is presented at a discussion at Teater Utan Kayu, Jakarta, to commemorate R.A. Kartini’s birthday, 20 April 2008.

Selama ini bila Kartini dibicarakan, ia selalu dilihat sebagai sosok yang utuh dan transparan. Atau ia sebagai feminis, sebagai pendekar emansipasi perempuan, atau sebagai pembela rakyat, pejuang anti-kolonial.

Tapi kita perlu ingat, dalam membaca Kartini, kita sebenarnya membaca sejumlah besar surat. Ia bukan saja berbicara mengenai “Aku” dan “Engkau” tapi juga kepada seorang “Engkau”, yang senantiasa harus ditafsirkan dan dinegosiasi. Kartini adalah contoh bagaimana “Aku” selalu merupakan subyek dalam proses.

Ini tampak jelas dalam surat pembuka Kartini kepada Stella Zeehandelar, seorang feminis dan sosialis Belanda berdarah Yahudi, jurnalis majalah mingguan Belanda untuk perempuan-perempuan muda progresif, De Hollandsche Lelie, yang mempunyai hubungan kuat dengan gerakan sosialis ternama di Belanda:

“Panggil saja aku Kartini—itu namaku.” Kalimat ini terkenal karena menjadi judul buku Pramoedya Ananta Toer tentang perempuan muda dari Jepara ini. Tetapi sebenarnya sini Kartini menandaskan ke-”aku”-annya dengan memakai tatapan dan bahasa pihak Yang Lain, yang “bukan Aku”.

“Ketika aku memberikan alamatku kepada Mev. Van Wermeskerken tentu aku tidak bisa hanya menulis Kartini bukan, hal ini pasti akan mereka anggap aneh di Belanda dan untuk menulis “mejuffrouw” (nona) atau sejenisnya di depan namaku, wah, aku tidak berhak untuk itu—aku hanyalah orang Jawa.” tulis Kartini.

Ini bisa jadi semacam sarkasme, bisa murni sebuah kesantunan terhadap seorang asing yang baru saja ia kenal. Tetapi ini juga dapat dilihat sebagai usaha menyesuaikan diri, agar lebih mudah dipahami orang di Belanda.

Surat memang berbeda dari jurnal karena ia harus selalu menempatkan diri dalam dialog dengan orang lain. Kadang ia berpuisi dengan liris, beretorika dengan mengumpat, berbisik dengan lirih. Kadang ia mesra bak terhadap seorang kekasih: “Nanti, nanti, Stella, pujaanku, saat aku sudah menggenggamnya di tanganku, erat, amat erat, sehingga tak akan lepas, saat itulah kau akan tahu.” Tetapi kadang ia berjarak, seperti pada ketakmampuan Kartini mengakui, dalam surat pertama, bahwa ia anak selir.

Surat berbeda dengan esai. Esai menghadirkan semacam sesuatu yang konstan (terutama dalam struktur, metode, kronologi dan fakta sejarah yang jelas), sementara surat sangat tergantung kepada pihak yang disurati, siapa dia, usia, ras, status sosial, ideologi dan aliran politiknya. Surat juga tergantung suasana hati si penulis surat pada saat ia menulis.

 

Selalu “Lain”
Bagi saya, Kartini adalah selalu “ia yang lain”. Ia selalu bukan ini atau itu.

Ia sosok yang selalu berada di tepi. Ia berada di tepi hierarki sosial Jawa, sebagai bagian dari kaum priyayi rendah. Ia berada di tepi dalam hubungan kolonial, sebagai kaum priyayi yang mendapatkan sejumlah privilese tapi juga tak bisa merealisasikannya secara penuh. Ia berada di tepi dalam hubungan keluarga, sebagai anak kesayangan bapaknya tapi sekaligus anak selir dan bukan anak permaisuri – yang menyebabkan ia mencintai bapaknya sekaligus membenci hubungan poligami.

Berada di tepi mengandung kepedihan tertentu. Ia menulis: “Di satu pihak aku tidak bisa kembali ke lingkunganku yang sebelumnya – namun di pihak lain aku juga tidak mungkin masuk ke dalam dunia baru itu, masih ada beribu tali yang mengikatku erat kepada dunia lamaku.”

Kepedihan itu lebih tersiat dalam hubungan keluarganya. Ia mengatakan kepada Stella mengenai Ibunya yang “masih sangat terhubung dengan Kerajaan Madura”. Yang dimaksud di sini tentunya adalah ibu tirinya, bukan ibu kandungnya yang datang dari kalangan pesantren—sesuatu yang bisa kita tafsirkan sebagai gabungan rasa malunya karena bapaknya berpoligami, rasa cemasnya bahwa fakta itu akan mengusik sensibilitas seorang feminis seperti Stella atau rasa malunya bahwa ia hanyalah anak selir.

Kartini juga berada di tepi karena kebebasan dan pendidikan yang ia dapatkan sebenarnya tidak luar biasa bagi ukuran Barat tapi tetap tak lazim buat negerinya. Kita melihat Kartini tetap terbelenggu – ia tak bisa mewujudkan cita-cita tertingginya, yaitu “pergi ke Eropa.”

Ia mendidik dirinya dengan pikiran-pikiran Barat, tapi, ketika pada usia 16 tahun mendapatkan “kebebasan” dari bapaknya untuk keluar rumah, ia mendengar Mevrouw Ovink-Soer, salah satu teman keluarganya, “Nak, nak, apakah kami sudah melakukan hal yang benar dengan mengeluarkanmu dari tembok kabupaten yang tinggi itu? Apakah justru mungkin akan lebih baik kalau kalian bertiga tetap tinggal di sana?”

 

Ambivalensi Wacana Kolonial
Di sini kita lihat bahwa Kartini adalah sebuah contoh ambivalensi dalam wacana kolonial. Kita tahu, kolonialisme (atau imperialisme) adalah puncak kapitalisme pada zaman itu. Kapitalisme sendiri merupakan buah dari Pencerahan, yaitu ide manusia sebagai subyek yang mandiri, yang mengalahkan alam dan yang di luar diri, yang membawa kemajuan, seperti yang digambarkan dalam Manifesto Komunis, akan tetapi juga penjajahan. Ketika Si Kolonialis berada di negeri jajahan, dia bertemu dengan “Yang Lain”, pihak yang dijajah yang di luar dirinya.

Harus diapakankah orang-orang ini? Karena semangat Pencerahan adalah membawa kemajuan maka salah satu proyek kolonialisme adalah pendidikan. Di Hindia Belanda itu dicerminkan dalam “Politik Etis,” untuk menularkan semangat kemajuan dan pencerahan pada Yang Lain.

Tetapi agenda Pencerahah seperti yang tampak dalam “Politik Etis” mengandung risiko: apabila proyek ini diteruskan, ia akan mengaburkan Yang Menjajah dan Yang Terjajah, dan berbahaya bagi identitas si Penjajah. Apabila proyek itu dilakukan sepenuhnya, Yang Terjajah bisa menuntut kesetaraan dan kemerdekaan, yang akan mengancam raison d’etre penjajahan. Maka proyek itu dihambat sendiri “dari dalam”, oleh Yang Menjajah. Si Terjajah harus tetap jadi “Yang Lain”, yang berbeda. Di sini yang dipertahankan pada dasarnya adalah pengukuhan dan pelembagaan esensialisme. Esensialisme adalah sebuah sikap yang membuat setiap perbedaan dan identitas hakiki, tak berubah-ubah dan tak tergantung pada sejarah dan lokalitas.

Tapi pada saat yang sama Yang Terjajah tak jarang memakai kesempatan ini sebagai perlawanan. Misalnya melalui pendidikan ia mengubah dirinya, dan dengan mengubah dirinya ia menghancurkan esensialisme. Pengerrtian “mikiri” yang diperkenalkan oleh Homi Bhabha, tidak sekedar meniru-niru, tetapi mengandung perlawanan. Homi Bhabha sendiri meminjam ide mimikri ini dari Jacques Derrida, yang mengatakan bahwa mimikri atau laku meniru tak sekadar menjiplak sebuah fenomena, ide atau sosok yang sudah ada sebelumnya, tapi membentuk, dengan membayangkan (membawa “fantasme”) tentang suatu yang “asli”, dan merupakan asal usul.

Kartini fasih berbahasa Belanda, mahir memasak masakan Belanda, menulis resep-resep dengan cara Barat seperti yang dikemukakan oleh Suryatini N. Ganie dalam bukunya,Resep-Resep Putri Jepara, dan rajin membaca buku dan jurnal yang diterbitkan di Barat. Terkadang dilihat, sikap ini seperti meniru Si Penjajah – tetapi sebenarnya tidak hanya itu. Inilah yang menyebabkan setiap transplantasi budaya bisa mengandung sesuatu yang paradoksal, Tak ada lagi daya kendali yang otentik, orisinil ataupun murni; egala sesuatu dikontaminasi atau diberdayakan oleh daya subversif imitasi. Yang “Lain” telah menjadi “sesama” yang telah dilarutkan. Terjadilah hibriditas.

Bagi banyak wacana nasionalisme, hibriditas cenderung dianggap dengan negatif, karena tidak murni, hingga mimikri sering nampak seakan hanya jiplakan belaka. Padahal, seperti yang ditunjukkan Homi Bhabha, mimikri mengukuhkan dan mendistorsi otoritas kolonial sekaligus.

Seperti yang ditunjukkan Kartini, mimikri mewakili sebuah kompromi yang ironis:hampir sama, tapi tidak benar-benar sama. “Stella yang baik, aku sungguh bahagia karena kau menganggapku sama dengan teman-teman Belandamu dan memperlakukanku sama dengan mereka, dan juga menganggapku sebagai teman sepahammu. Aku tidak menginginkan hal lain selain kau tetap memanggilku dengan ‘namaku’ juga dengan ‘je’ dan ‘jij’. Kau bisa lihat bagaimana lancarnya aku meniru contohmu.”

Apa yang kita lihat dalam diri Kartini adalah sebuah upaya yang konsisten untuk memaknai dirinya sebagai aspek perlawanan dari mimikri. Tak jarang Kartini memposisikan Stella, sang “pasangan jiwa”, sebagai yang lain, yang tak mengerti, yang angkuh, yang hanya tahu sedikit-sedikit, dan yang berdiri di luar realitanya, hingga Kartini acap merasa perlu mengangkat ke-Jawa-an sebagai sesuatu yang luhur dan berbudaya. Ini agaknya semacam upaya mengkonstruksi sebuah identitas kolektif sebagai subyek “Budaya Jawa,” tulis Kartini pada Stella, “tidak rendah dalam pendalaman rohaninya.”

Tapi kita tahu dalam kehendak menandaskan diri, Kartini – dan tak jarang kaum yang dijajah umumya -- mencoba menggali tradisi, bahasa, sejarah dan agama dan membangun ulang “sifat otentik”. Mereka melakukan ini karena tak sudi mengukur diri terhadap norma-norma yang dalam jargon Lacan dikenal (dalam bahasa Inggris) sebagai the Big Other, atau “Mereka” -- yaitu negara, lembaga, orang tua, yang menguasai wacana atau membentuk identitas “aku”. Tapi dengan menandaskan “keotentikan” yang nota bene artifisial, pada dasarnya kaum yang dijajah tetap berpikir dalam cengkeraman “Mereka”.

Dari kasus ini kita melihat bahwa Homi Bhabha hanya menyinggung satu bentuk mimikri, yaitu meniru untuk mengguncang esensialisme. Sementara itu, menurut hemat saya, bentuk mimikri yang lain, yang justru dalam niat melawan dengan berbeda ternyata malah mengukuhkan esensialisme.

Itulah yang terjadi ketika Kartini bebricara kepada Stella tentang “Jawa”, seakan-akan “Jawa” itu tidak berubah. Dalam kasus ini Kartini melakukan perlawanan dengan mengukuhkan identitas tapi justru dengan itu ia mereproduksi wacana yang berkuasa, yaitu esensialisme.

Tapi di sini juga kita meihat posisi Kartini sebagai orang tepian . Ia tak sepenuhnya konsisten memuja-muja kebudayaan Jawa—apalagi dalam memuji kebudayaan Jawa itu ia mungkin hanya melakukannya sebagai strategi identitas. Tulisnya pada Stella: “Apa peduliku soal peraturan-peraturan adat? Aku gembira sekali akhirnya dapat mengoyak peraturan adat Jawa yang konyol itu saat berbincang dalam tulisanku ini. Adat peraturan ini dibuat oleh manusia, bagiku itu menjijikkan.”

Tetapi mengapa ia butuh strategi identitas itu?

 

“Eropa” dalam kehidupan Kartini
Di sini kita sampai pada pertanyaan: Eropa macam apakah yang masuk dalam hidup Kartini, dan bagaimanakah ia masuk?

Pertama, melalui pendidikan. Ini dimulai dengan seorang almarhum kakek yang “progresif” untuk zamannya: bupati pertama di Jawa yang mengundang “seorang tamu” dari seberang lautan dan yang memberikan semua anaknya pendidikan ala Eropa. Kemudian, seorang bapak yang melanjutkan hal ini dengan memberikan pendidikan yang kurang lebih sama bagi anak-anaknya.

Kedua, melalui bacaannya atas literatur Eropa.

Ketiga, gaya hidup Eropa yang masuk ke rumahnya, termasuk dalam hal makanan.

Keempat, interaksi sosial, yang mencakup pergaulannya dengan orang-orang Eropa, baik secara langsung maupun melalui korespondensi, maupun amatannya terhadap interaksi orang Eropa dan kaum pribumi di negerinya.

Saya ingin sedikit membahas ketiga aspek terakhir. Salah satu hal yang menakjubkan tentang Kartini bukan saja minat dan telaahnya terhadap literatur Eropa tapi juga kegigihannya menulis. Meski dalam surat-suratnya respons terhadap bahan bacaan tersebut tak pernah terlalu mendalam, ada kesan kuat bahwa ia memikirkan apa yang ia baca dan membiarkan mereka memicu sejumlah sikap dan keputusannya.

Kekaguman Kartini terhadap Mevrouw Geekoop De Jong van Beeken En Donk, penulis feminis yang sangat berpengaruh dengan bukunya, Hilda van Suylenburg, yang terbit tahun 1897, misalnya, adalah salah satu alasan mengapa ia menolak pernikahan.

Kartini juga mengagumi Multatuli, dan mampu membandingkan kondisi masyarakat kolonial pada zamannya dengan kondisi masyarakat kolonial dalam Max Havelaar.

Sementara itu, Kartini rajin menulis. Selain menyumbangkan sebuah tulisan tentang batik kepada Pameran Karya Perempuan di Belanda tahun 1898, yang beberapa kali dicetak ulang, ia pun menulis sebuah buku resep – sesuatu yang tidak lazim pada zamannya.

Dengan demikian Eropa juga masuk ke diri Kartini melalui makanan.. Buku yang ditulis Kartini, kumpulan resep keluarganya, adalah semacam testimoni atas bagaimana cita rasa dan cara hidup kaum elite kolonial meniru budaya si penguasa yang sebenarnya juga tidak asli.

Ritual uurtje, misalnya, atau ritual minum teh di sore hari, sama sekali bukan merupakan tradisi Belanda, tapi tradisi Inggris. Ritual ini hanya dilakukan oleh orang Belanda di Hindia Belanda, yang nampaknya kurang kerjaan dan hanya bisa duduk-duduk ongkang-ongkang kaki sambil minum teh dan makan pisang goreng di sore hari, sembari menikmati semilir angin di sebuah petang tropis. Sementara, kebanyakan orang Belanda di negerinya, yang kerja keras dan hidup tanpa pembantu, tak akan punya waktu untuk ritual-ritual seperti itu.

Hal semacam ini juga tak hanya melibatkan etiket dan kebiasaan makan, tapi juga apa yang dimakan. Apa yang dikenal di Indonesia sebagai sop sayur, misalnya, sebenarnya adalah apa yang di Belanda dikenal sebagai groenten soep; sementara itu Madeira Sauce yang acap ditemukan di dalam bistik yang sering dihidangkan di meja makan Kartini sesungguhnya adalah adaptasi dari adaptasi: orang Indonesia mengadaptasi orang Belanda yang mengadaptasi orang Prancis. Selat Solo—potongan sandung lamur dan pelbagai sayur rebus yang diiris tipis-tipis yang disajikan dengan saus semur dan saus mayonnaise yang mengandung banyak telur—adalah contoh makanan dalam repertoar keluarga Kartini yang tak akan pernah ditemukan di meja makan khalayak ramai.

Dalam hal ini, kita bisa berspekulasi bahwa keputusan Kartini membuat buku resep adalah upaya mengkonstruksikan adat atau kebiasaan bersantap orang Jawa dengan paradigma Eropa sebagai semacam penyamaan martabat dengan budaya Si Penjajah.

Jika kita melihat adanya sikap yang bermata dua dalam kasus resep, dalam hal interaksi sosial juga ada ambivalensi. Terhadap Stella, yang ia hormati dan sayangi, dia ingin berlaku sama. Dengan Rosa Abendanon-Mandri, istri Direktur Pendidikan Hindia Belanda baru yang beraliran reformis sikapnya berbeda. Perempuan ini jadi panutan dan pujaan bagi Kartini dan adik-adiknya.

Begitu rupa kekaguman dan rasa takjub Kartini terhadap Rosa Abendanon-Mandri hingga surat-suratnya sering “histeris” dan terbuai dalam romantismenya sendiri, atas kondisinya dan adik-adiknya sebagai makhluk jajahan yang “telah terluka berat dan hancur oleh kejamnya Hidup.” Ia lukiskan kebahagiaannya yang meluap-luap ketika pertama kali bertemu dengan Rosa dan suaminya sebagai “cinta yang menderu merasuki dirinya dan mengambil alih seluruh jiwa dan raganya tanpa ia sadari”.

Juvenilia semacam ini tak jarang ditemukan dalam orang sebaya Kartini, yang berbakat, menonjol dan ingin diperhatikan, dan juga yang pada usia itu punya kehendak untuk merasakan dan menuliskan keadaan jatuh cinta. Tetapi sikap ini mungkin juga mengandung sedikit pragmatisme. Rosa dan suaminya kuat secara politis, dan berkuasa atas nasib pendidikannya.

Amat mungkin juga karena Rosa berbeda. Latar belakang Rosa sebagai orang Spanyol yang lahir di Puerto Rico, sesuatu yang Kartini asosiasikan sebagai kedekatan intrinsik dengan Jawa. Ini praktis membuat Rosa juga sesama orang asing di tengah komunitas orang Eropa yang diwakili Belanda. Seperti yang Kartini kemukakan dalam suratnya: “Dia, Rosa, adalah orang asing, seorang dari Spanyol yang penuh kehangatan, yang memukau, indah, romantis.”

Pada akhirnya, Rosa tampil sebagai pribadi, bukan wakil sebuah ras yang superior, seperti paradigma yang ditekankan orang Belanda di zaman kolonial itu.

Pada titik ini, yang bisa disimpulkan Eropa atau Belanda bagi Kartini tidak tunggal, tidak mempunyai hakikat atau esensi yang kekal. Kita bisa mencatat kebencian Kartini terhadap wajah Belanda yang zalim, yang sombong, congkak, rakus dan semena-mena, hal yang sering ia temukan dalam perjalanannya menemani bapaknya sang bupati Jepara yang peduli pada nasib rakyat kecil. Tak ada lagi Kartini si anak kecil haus perhatian, Kartini yang sentimental. Surat-suratnya yang menjelaskan hubungan kolonial yang eksploitatif itu, sungguh luas dan dalam mengupas anatomi penjajahan yang berujung pada kemiskinan, keterpurukan dan keterbelakangan.

“ … dan masih juga, sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ‘ladang kera yang mengerikan.’ Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan “Hindia yang miskin.” Orang mudah sekali lupa kalau “negeri kera yang miskin ini” telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal di sini.”

 

Nasionalisme yang universalis 
Sebagai penutup, tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa Kartini telah mempelopori sebuah kesadaran identitas diri yang merupakan dasar nasionalisme Indonesia kelak, yang tidak berdasarkan identitas etnik atau budaya yang permanen. Bisa jadi Kartini mendahului pemikiran kaum nasionalis di Indonesia yang kemudian datang: nasionalisme yang berdasarkan kepada sifat universal yang ada pada sesama.

Ia mengatakan pada Stella bahwa ia ingin “bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya” dan “aku tak ingin apapun kecuali mengabdikan diriku secara utuh untuk melakukan hal-hal seperti yang telah dilakukan kaum perempuan di Eropa”.

Sekaligus ia menjelaskan bahwa “Bisikan itu tak hanya datang dari luar, dari mereka yang sudah beradab, dari Benua Eropa …”, tapi bahwa ada sesuatu dalam dirinya yang membisikkan keinginan itu jauh sebelum ia bisa mendapat akses kepada buku dan artikel Eropa tentang modernitas.

Artinya, ia melihat bahwa tuntutan untuk merdeka juga bisa datang dari seorang perempuan Jawa, ketika perempuan itu tertindas. Tuntutan itu universal, bisa datang dari semua bangsa di muka bumi.

Dan ini semua hanya bisa dikemukakan oleh orang di tepian, yang identitasnya tidak dikurung dalam sesuatu yang partikular.

20 April 2008