ARTICLES IN TEMPO MAGAZINE

Karikatur Dan Kemarahan

Tempo Magazine, 2006

Sebuah gelombang besar kemarahan sedunia, dan 12 buah karikatur di sebuah koran Denmark – inilah yang terjadi sekarang. Haruskah umat Islam marah?

Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita simak, dengan lebih tenang, 12 karikatur itu. Majalah Economist menyebut gambar-gambar itu tak ubahnya “lelucon anak sekolah”. Pendapat itu tak sepenuhnya benar. Gambar Nabi sebagai teroris, dengan surban bomnya, jelas sebuah representasi Islam sebagai Kekerasan. Ini, dan bukan upaya menggambar paras Nabi per se, memang menyinggung perasaan orang Islam. Tapi pendapat itu juga tak sepenuhnya salah, dalam arti bahwa kartun-kartun itu umumnya merupakan sebuah campuran stereotipe, sikap sok benar, dan komentar tak lucu.

Salah satunya, misalnya, menggambarkan Nabi sedang berdiri di atas segumpal awan. Di depannya barisan laskar bom bunuh diri. “Stop, stop, kita sudah kehabisan perawan.” ia berseru. Maksudnya jelas: perawan sama dengan hadiah bagi para martir.

Sepintas, cukup lucu. Tapi mungkin hanya bagi mereka yang menyikapi humor dengan santai. Atau yang menganggap seks bukan perkara besar. Tapi, bagi mereka yang percaya bahwa Nabi adalah manusia tersuci, kartun itu tentu mengusik. Reaksi Kaum feminis pun bisa terbelah: antara mereka yang menolak penggambaran perempuan secara tak terhormat, dalam bentuk apa pun, dan mereka yang melihat kartun itu sebagai pengukuhan ketakadilan laki-laki terhadap perempuan, bahkan oleh Nabi sekalipun. Di sini, pengetahuan sejarah Islam si pembaca mengambil peran penting.

Contoh lain: Nabi adalah seorang pejalan. Pada sebuah Maghrib, ia berdiri di tengah padang pasir dengan seekor keledai di latar belakang. Kartun ini sangat tak imajinatif, meski sopan.

Satu lagi menarik. Ia menunjukkan Muhammad bukan sebagai Nabi orang Islam melainkan seorang anak SD dengan raut wajah Arab. Ia sedang menunjuk sebaris tulisan Farsi di papan tulis. Bunyinya: “Para redakturJyllands-Posten adalah segerombolan provokator reaksioner.” Di kausnya, tertera kata Fremtiden, atau Masa Depan. Kartun ini bisa merupakan sentilan terhadap para penerbit karikatur – semacam sikap menertawakan diri -- ketimbang pelecehan terhadap Islam.

Hukum Islam, baik yang menyangkut murtad (apostasy) atau penghujatan terhadap agama (blasphemy), memang tak berlaku di Eropa yang pernah mengalami sejarah buruk ketika agama bercampur dengan kekuasaan dan sebab itu menjadi “negara sekuler”. Dengan memuat karikatur-karikatur itu, Jyllands-Posten tak bisa dituntut secara hukum.

Masyarakat Islam Eropa, khususnya para imigran, pada umumnya juga sadar akan hal itu. Meski hidup dengan kemiskinan dan keterpinggiran, bagi mereka Eropa adalah sebuah kesempatan dengan kebebasan, dan untuk itu mereka harus rela membaginya dengan yang-Lain.

Tapi memang tak selamanya mudah. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama semenjak “peristiwa 11 September”, gerakan sayap kanan dan anti imigran, terutama anti-Islam, semakin kuat di Eropa. Memang ada perangkat hukum untuk melindungi agama, seperti UU anti penghujatan. Di Prancis yang sekuler, Gereja Katolik memenangkan tuntutan perkara atas seorang desainer busana yang mengganti para rasul dalam lukisan Jamuan Terakhir dengan perempuan-perempuan berbusana minim. Tapi, dalam hal ini, hukum yang membatasi ekspresi tidak dibuat untuk meningkatkan toleransi dan hormat antar agama, tapi untuk mengukuhkan hegemoni. Ia merupakan simbol konservatisme, bukan liberalisme.

Sementara itu, agama Islam, sebagai agama minoritas, belum tentu terlindungi. Usaha Perdana Menteri Inggris Tony Blair untuk memperluas hukum anti penghujatan agar mencakup semua agama (bukan hanya Kristen) baru-baru ini gagal.

Dalam kasus Jyllands-Posten, diketahui ada kesengajaan dalam keputusan memuat 12 karikatur itu. Harian itu tak saja pernah menolak memuat karikatur Yesus atas dasar tak hendak menyinggung perasaan pembaca; mereka menolaknya, menurut editornya pada saat itu, karena mereka “tak meminta (kartun-kartun itu)”. Sementara, kita tahu, harian itu khusus mengundang 40 ilustrator untuk menggambar Nabi-nya orang Islam dengan tujuan “menguji batas sensor diri” warga Denmark.

Maka, ironis apabila mereka kini mengusung bendera Kebebasan Bersuara berdasarkan premis “pertentangan peradaban” ala Samuel Huntington yang meyesatkan itu. Perlu diingat bahwa Denmark, dalam konteks ini, juga jauh dari Negara Bebas Suara. Menurut Artikel 40 dalam Kode Kriminal mereka, siapa pun yang terbukti menghina “sebuah komunitas agama yang diakui” wajib membayar denda dan atau masuk penjara paling lama empat bulan. Umat Islam berhak tersinggung; kasus karikatur ini bukan tentang apa yang boleh atau tak boleh dalam Islam, melainkan tentang diskriminasi.

Tapi, sekali lagi, apakah umat Islam harus marah? Rumus ideal untuk sebuah kehidupan bersama, akan kira-kira seperti ini: hak untuk mengemukakan pendapat dan berekspresi sudah seharusnya menjadi landasan setiap masyarakat. Hak ini termasuk “kebebasan untuk mempertahankan pendapat tanpa intervensi dan untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi melalui media apa pun, tanpa mengindahkan batasan.” (Artikel 19, Deklarasi Hak Azasi Universal). Sementara, hak itu bukan absolut, baik bagi penciptanya maupun para kritiknya. Ia menuntut tanggung jawab, terutama yang mencakup hasutan untuk melakukan diskriminasi atau kekerasan.

Alangkah indahnya apabila kita bisa menentukan batasan-batasannya bagi setiap individu atau kelompok masyarakat. Tapi bagaimana kita mencegah perbedaan pendapat? Tafsir yang jamak? Atau keyakinan pribadi?

Sejarah Yesus dalam seni rupa sama-sama sebuah sejarah yang berdarah, tapi ia telah mengalami banyak cobaan: dari simbol yang- Transenden (Paul Klee) dan metafora yang-Absurd (Francis Bacon), sampai perjalanan ke yang-Tak Terpetakan (Joseph Beuys) dan renungan tentang yang-sama-sekali-Lain (Mark Rothko, Barnett Newman). Tahun 1926, pada kanvas Max Ernst, ia bahkan si bayi berambut blonda yang sedang dipukuli pantatnya oleh Bunda Maria. Apakah sebagai tanda tanya, obyek cemooh,alter ego atau Pastor Bonus, pada Abad ke-20 Yesus bukan lagi si gembala muda dalam ikonoklasme abad ke-3 atau ke-4. Sungguh banyak kepentingan mengatasnamakannya, tapi ia tak untuk dibekukan di dalam sebuah dogma. Dan agama Kristen terus bertahan.

Mungkin kita juga harus lebih legowo menerima yang niscaya. Seorang kepala sekolah di Cairo menyimpulkannya dengan baik: “Apabila kita cukup percaya diri dalam keyakinan kita, kita tak perlu bereaksi dengan begitu histeris.”

Laksmi Pamuntjak
Penulis, penyair